Posted by: marlinaeva | July 3, 2008

Mestikah Bercerai?

Ada berita yang cukup membuat shock hari ini. Sepasang suami istri yang gue tau sepatutnya menjadi panutan, yang sepatutnya mengerti bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang betul-betul sakral dan ga bisa ditawar-tawar; sepasang suami istri ini katanya telah berpisah, bahkan bercerai. Kenapa 2 orang yang saling sayang bisa sampai akhirnya bercerai?? Bener-bener ga habis pikir. Pantes aja gue perhatiin anak mereka kelihatan pendiam sekali. Ada sesuatu di anak itu yang ga bisa gue jelasin sebelumnya. Gue cuma merasa pasti ada sesuatu dengan dia sampai dia jadi pendiam begitu.

 

Kenapa harus bercerai sih?? Bukannya dulu mereka saling sayang satu sama lain?? Apa perbedaan, pertengkaran dan lainnya ga bisa diselesaikan dengan jalan damai?? Sama-sama mencari pemecahan dan jalan keluar yang baik, dan bukannya malah berpisah. Gue inget pribahasa yang bilang “Time heals all wounds” (“waktu mengobati segala luka”). Tapi apa waktu itu begitu ajaibnya, bukan hanya dia mengobati luka, tapi dia juga bisa melunturkan semua rasa sayang dan membuat orang mengingkari janji setia kepada orang lain???? (Mungkin pada waktu itu sebetulnya janji itu ga sungguh-sungguh diucapkan dengan segenap hati…)

 

Anak-anak. Selalu anak-anak yang jadi korban. Beberapa hari lalu, di Oprah Show juga kebetulan membahas masalah ini. Hebatnya lagi, anak-anak dari orang tua yang bercerai itu merasa bahwa merekalah biang keladi penyebab orang tuanya bercerai. Mereka merasa bersalah. Mereka menyalahkan diri sendiri, menganggap diri mereka sudah bertingkah laku begitu buruk sehingga pertikaian antara ayah ibunya dapat terjadi. Lalu mereka memendamnya dalam hati, tidak berani berbicara dan orang tua mereka juga berpikir tidak perlu membahas masalah itu dan meminta maaf karena menganggap mereka masih kecil.

 

Lalu seorang konselor datang.  Semua anak-anak ini tidak bisa menahan air mata saat konselor itu berusaha berbicara kepada mereka dari hati ke hati dan mengatakan bahwa semuanya itu bukan salah mereka sama sekali. Bahkan anak laki-laki berumur sekitar 6-7 tahun pun ga bisa berhenti menangis…Semua satu keluarga yang diwawancarai menangis (Cuma ayah dan 2 anaknya yang hadir, ibunya tidak hadir). Kalau hal itu begitu menyakitkan, lantas kenapa harus bercerai???

 

Gue mungkin ga ngerti & blum ngerti apa sebabnya orang bercerai, karena gue sendiri blum menikah. Tapi mungkin konflik antara mereka udah parah banget dan ga bisa tercapai kata kesepakatan kali. Entahlah… Yang jelas, semua perceraian ini membawa dampak yang buruk bagi anak-anak. Tadinya gue berpikir mereka “cuma”  akan kehilangan figur ayah atau ibu dalam hidup selanjutnya. Tapi ternyata lebih dari itu. Ayah dan ibu yang bercerai sudah memberi luka batin yang akan dibawa oleh anak mereka seumur hidupnya. Kemanapun anak itu melangkah, dia akan mengingat pertengkaran yang terjadi di rumahnya dan bagaimana rumah yang hangat itu bisa tiba-tiba menjadi begitu dingin.

 

Mungkin, kalau anak itu adalah seorang pejuang yang berhati besar, dia akan beruntung dan bisa hidup normal seperti anak-anak yang lain kalau sudah besar. Mungkin, nanti pada akhirnya dia bisa ngomong “Time heals all wounds”.

Semoga deh….

Posted by: marlinaeva | June 13, 2008

Sampai Bertemu Lagi

Bersama Teman-Teman

FRIENDS
by Michael W. Smith

Packing up the dreams God planted
In the fertile soil of you
Can’t believe the hopes He’s granted
Means a chapter in your life is through
But we’ll keep you close as always
It won’t even seem you’ve gone
‘Cause our hearts in big and small ways
Will keep the love that keeps us strong

Chorus:
And friends are friends forever
If the Lord’s the Lord of them
And a friend will not say never
‘Cause the welcome will not end
Though it’s hard to let you go
In the Father’s hands we know
That a lifetime’s not too long
to live as friends.

With the faith and love God’s given
Springing from the hope we know
We will pray the joy you’ll live in
Is the strength that now you show

But we’ll keep you close as always
It won’t even seem you’ve gone
‘Cause our hearts in big and small ways
Will keep the love that keeps us strong

 

 

Ga nyangka setaon udah selesai. Rasanya cepet banget, tau-tau udah naik-naikan kelas lagi. Tapi juga sekaligus lamaaaaa banget, apalagi waktu masa-masa “gedubrakan” banyak kerjaan : English Week- lah, Math Week- lah, Field Trip- lah, bikin soal ulangan, ujian, remedial, ngisi rapot, de es te, de es be. Rasanya lamaaaaa bangeeettt….

 

Tapi hari ini hari terakhir nih di taon ajaran ini. Ada temen-temen yang bakal pergi, ga lagi bakal ketemu mereka bulan depan di sini. Banyaaak banget. Itung punya itung ada 20 orang kurang lebih. “ I hate saying good bye” . Bener-bener ga enak. Ga bisa lagi ngobrol ketawa-ketawa, trus gosipin anak-anak berikut ortu mereka. Ga bisa lagi share cemilan, atau minta-minta makan siang ama temen-temen kalo kita kebetulan cuma ada nasi doang. Hihihi….

Biar gimana pun, meskipun gue harus bilang “I hate saying good bye”, tapi lagu di atas kayaknya bener-bener menghibur de.

 

Gue jadi inget ada cerita sepasang suami istri. Salah satu dari mereka sedang sekarat dan akan meninggal (gue lupa yang mana, suami atau istrinya). Lalu yang masih hidup mengucapkan “Selamat tinggal”. Tapi yang satunya lagi bilang “Jangan bilang selamat tinggal, sayang. Tapi ucapkanlah sampai bertemu lagi. Karena nanti kita akan bertemu lagi di Surga”

 

Kalo dipikir-pikir betul juga. Antara teman, sebetulnya ga ada kata “Good bye”. Yang ada hanyalah “C u later”. Mungkin kita ga punya waktu dan kesempatan untuk bertemu lagi di sini, tapi “If the Lord is the Lord of us”, gue yakin suatu waktu nanti, kita akan bertemu lagi. J

 

 

 

Posted by: marlinaeva | May 30, 2008

Aku Ingin Berlari

Aku Ingin Berlari Bersamamu!!

Aku suka angin, sangat suka angin. Padahal aku sangat mudah masuk angin. Sedikit begadang aja bisa membuatku “tewas” keesokan harinya. Hohoho…

 

Tapi aku tetap suka angin.

Aku suka mengendarai sepeda, melihat ke segala arah, seakan-akan aku berada di “top of the world”. Aku bisa terbang!!

Aku suka duduk di tepi pantai, menantang luasnya air tak bertepi dan langit sore yang menyemburkan warna kuning oranye keemasan sampai terpantul di air.

Aku suka merasakan wajah dan rambutku tertiup angin sore.

 

Tapi satu hal yang ingin kulakukan sekarang ialah..

Aku ingin pergi ke padang, luas tidak berujung.

Rumput-rumputnya tinggi, menguning dengan bulir-bulir di ujungnya, mengayun-ngayun tertiup angin.

Di depanku terbentang langit sore yang selalu kukagumi.

 

Aku ingin berlari sekuat-kuatnya di padang itu. Ingin merasakan angin itu menghembuskan nafasnya di wajahku dan rambutku. Aku ingin terbang, sambil menggenggam tangan-tangan mungil anak-anak.

 

Aku ingin terbang bersama-sama anak-anak kelas 3A. Bersama Shelly yang kaku tapi penuh perhatian, bersama Kevin yang lucu dan pintar. Ada juga di sebelahnya Jonathan yang bahkan ibunya pun mengeluh kepadaku tentang suara cemprengnya dan nyanyiannya yang tidak jelas lengkingan nadanya. Dan di sebelahnya lagi ada Neilshen yang sering kuhukum ke luar kelas tapi mulut monyong dan muka lucunya selalu membuatku tidak tega untuk menghukumnya lebih jauh.

 

Aku ingin terbang menembus angin bersama Joveli yang pintar dan perfeksionis itu dan bersama 2 anak laki-laki terjorok di kelas kami: William yang mengotori seantero mejanya dengan lem dan yang mencoba makanan bebek seperti mencoba chiki dan juga Michael yang semburan dari mulutnya membuat semua anak-anak perempuan berteriak-teriak mengadu padaku karena jijik.

 

Di padang itu, aku ingin berteriak dan berlari kuat-kuat, mengejar anak-anak karena aku menjadi polisinya dan merekalah semua malingnya.

 

Ada maling yang bernama Louis yang kalem, juga Thalia yang dengan kaca mata tebalnya sering menatap papan dengan pandangan kosong tapi selalu tersenyum malu kalau aku menegurnya. Ada juga maling yang bernama Wilson yang mengulang-ulang menebalkan tulisannya berkali-kali sampai tulisannya tembus ke halaman di belakangnya.

 

Aku ingin berlari bersama Vivi yang selalu takut mencoba, bersama Brigitta & Amanda yang sering menggambar kartun untukku dan menulis “Ms Marlina is like a rose”. How sweet….. :D. Aku ingin bermain bola dengan si tomboy Nicole, ingin menggandeng Stella yang dulu tidak diperhatikan ayahnya dan ingin memeluk si kecil mungil Sandra sampai ia remuk. J

 

Aku hanya ingin berlari bersama mereka di padang itu sampai kami tidak dapat berlari lagi karena terlalu kelelahan…

Kami tidak dapat berlari di lapangan sekolah karena konstruksi sedang berjalan. Dan 2 minggu lagi mereka akan naik kelas…

Tapi aku akan selalu bisa berlari dengan mereka kapanpun aku mau di dalam mimpiku…

 

Posted by: marlinaeva | May 4, 2008

Have I Told You Lately?

Have I told you lately that I love you

Have I told you there’s no one above you

Fill my heart with gladness, take away all my sadness

Ease my troubles, that’s what you do.

 

Another normal and cheerful morning. If that morning were her last morning, had she known that? Had she told him that she loved him? Had she said “Please forgive me”? Had she said “May God be with you and bless you” to those cute faces?

The wheel didn’t want to stop. It kept rolling with the loud screeching sound following the steering wheel. The wall coming to her was far too near. It was the only fragile thing that separated her between life and death. And below were layers of roads with hundreds of speeding cars. The only barrier.

 

But the wheel wouldn’t want to stop. It threw her to the other side of car. Scenes changed in just seconds. The car then stopped after turning 270 degrees. Lights blinking from other cars as if asking “Are you all right???”

Were it her last morning, she hadn’t had all the chance to say “I love you”.

 

But God had His own plan. He heard prayers and sent angels. How many angels were sent? Which one drove the steering wheel? Which one stepped on the brake? Which one slowed down the other trucks and cars? No body knew.

So she faced another day then. Another normal and cheerful day. But God had blessed her with another chance. A chance to say “I love you”.

 

For the morning sun in all its glory
Greets the day with hope and comfort too
You fill my life with laughter
And somehow you make it better
Ease my troubles that’s what you do


There’s a love that’s divine
And it’s yours and it’s mine like the sun
And at the end of the day
We should give thanks and pray
To the One, to the One

 

Posted by: marlinaeva | April 27, 2008

Slow Dance

SLOW DANCE
Have you ever watched kids
On a merry-go-round?
Or listened to the rain
Slapping on the ground?
Ever followed a butterfly’s erratic flight?
Or gazed at the sun into the fading night?
You better slow down.
Don’t dance so fast.
Time is short.
The music won’t last.
Do you run through each day
On the fly?
When you ask How are you?
Do you hear the reply?
When the day is done
Do you lie in your bed
With the next hundred chores
Running through your head?
You’d better slow down
Don’t dance so fast.
Time is short.
The music won’t last.
Ever told your child,
We’ll do it tomorrow?
And in your haste,
Not see his sorrow?
Ever lost touch,
Let a good friendship die
Cause you never had time
To call and say, “Hi”
You’d better slow down.
Don’t dance so fast.
Time is short.
The music won’t last.
When you run so fast to get somewhere
You miss half the fun of getting there.
When you worry and hurry through your day,
It is like an unopened gift….
Thrown away.
Life is not a race.
Do take it slower
Hear the music
Before the song is over.
I got this poem from a friend. It says : “The poem was written by a l young girl with cancer in New York Hospital. This young girl has 6 months left to live and as her dying wish, she wanted to send a letter telling everyone to live their lives to the fullest, since she never will. She’ll never make it to prom, graduate from high school, or get married and have a family of her own.” I don’t know whether the information is true or not, but the message is absolutely right and beautiful. It surely makes us think twice how we live our lives. Hope you like it as much as I do. J

 

 
 

 

   
 
 
 
 

 

 

 

 

 

Posted by: marlinaeva | March 18, 2008

Refleksi Akhir Tahun Ajaran

Betapa cepatnya waktu berlalu. Ulangan umum semester 2 sebentar lagi akan dimulai. Dan setelah itu, tiba lagi kenaikan kelas.

Lalu saya akan berpisah lagi dengan murid-murid. Sebetulnya bukan betul-betul berpisah, cuma saya yang tidak akan mengajar mereka lagi tahun depan. Tidak ada lagi kesempatan bagi saya untuk menanamkan kebaikan di hati mereka, menumbuhkan rasa percaya diri, mengembangkan bakat, menunjukkan jalan yang benar dan menuntun yang salah. Kesempatan itu hanya diberikan setahun lamanya.

Mereka yang Akan Naik Kelas

Syukur-syukur kalau masih dapat kesempatan lagi tahun berikutnya. Seperti yang saya alami bersama murid-murid kelas tiga ini. Saya diberi kesempatan menjadi pendidik mereka selama 2 tahun berturut-turut. Tapi melihat lagi ke belakang, setelah tinggal 2 bulan saja kenaikan kelas mereka, saya merasa saya belum melakukan apa-apa. Tidak banyak yang telah saya lakukan.

Padahal setiap tahun ajaran baru, saya selalu berdiri di depan kelas, selain dengan baju seragam baru, tentu saja dengan semangat dan harapan baru. Semangat dan harapan yang menggebu untuk menjadi pendidik yang paling baik. Namun seiiring berjalannya waktu, semangat itu menguap bersama keringat yang saya kucurkan saat saya mengoreksi semua PR dan ulangan. Saya hanyut mengerjakan rencana pembelajaran, terengah-engah mengejar target kurikulum, dan tenggelam dalam persoalan administrasi rutin kelas. Saya lupa semangat dan semua cita-cita saya. “Boro-boro mikirin cita-cita yang idealis, sudah bagus kalau bisa sampai akhir tahun ajaran tanpa komplain orang tua”, begitu teman saya berujar.

Namun kemarin ini saya bertemu mantan murid. Ia murid saya 3 tahun lalu. Kacamata anak-anaknya sekarang sudah berganti soft lens abu-abu. Rambutnya yang dulu dikuncir dua dengan poni yang tidak beraturan sekarang sudah terurai indah panjang, dengan guntingan poni rapi keluaran salon. Pipinya yang dulu bulat, sekarang lebih langsing, meskipun ia mengaku masih terlalu gendut. Seragam merah putihnya tidak akan saya lihat lagi melekat pada dirinya. Saya tertegun melihatnya.

Meskipun ia tetap ramah dan menyapa saya, namun saya tertegun juga. Ia telah berubah. Semua murid pasti akan berubah. Apa yang telah saya tanamkan padanya 3 tahun yang lalu itu? Apakah yang saya tanamkan itulah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini? Ia kelihatan lebih percaya diri sekarang. Itu bagus sekali. Saya pun ikut senang. Tapi bagaimana dengan yang lain? Apakah doa-doa saya agar anak-anak itu tidak terjerumus obat-obatan atau pergaulan yang buruk telah didengar Tuhan? Sudahkah saya berusaha dengan keras selama setahun ajaran itu?

Pertemuan dengannya sungguh membuat saya berpikir. Guru yang seperti apakah saya ini? Patutkah saya menyia-nyiakan masa satu tahun tenggelam dengan urusan tetek bengek administrasi, namun melupakan apa yang sebenarnya paling penting dalam dunia pendidikan, yaitu merebut jiwa-jiwa anak-anak didik saya? Sudahkah saya merebut jiwa mereka? Dari neraka, dari kejahatan dunia, dari penyiksaan terhadap diri mereka sendiri?

Apakah para pendiri dan pemimpin sekolah telah memikirkan jiwa anak-anak itu saat mereka membuat acara darmawisata ke luar negeri atau upacara kelulusan yang heboh di hotel berbintang lima? Dengan segala macam perayaan ini dan itu atau penghargaan ini dan itu? Apakah para pembuat kurikulum sudah memikirkan jiwa mereka saat mereka menetapkan buku-buku berat yang harus digendong anak-anak setiap hari demi menjadi orang terpandai seantero sekolah? Saya merasa sepertinya para pemimpin ini sedang mengejar-ngejar saya, dan pada akhirnya saya mengejar anak-anak.

Saya tidak bisa lagi duduk-duduk  bersama mereka sambil ngobrol santai, atau ikut bermain petak jongkok bersama mereka sesudah bel pulang sekolah berbunyi, ataupun merasakan genggaman tangan mungil mereka di tangan saya sewaktu berjalan-jalan di taman wisata. Saya merasa terkejar-kejar. Waktunya terlalu sempit untuk berleha-leha begitu. Tidak tahu apakah para guru yang lain juga merasakan hal yang sama.

Tapi saya tidak mau kehilangan momen berharga. Cuma setahun, tapi tidak sampai 365 hari, saya sudah harus dapat merebut mereka. Waktunya sangat sempit. Aaahh….Semoga saya dapat menjadi guru yang lebih bijaksana lagi.

Posted by: marlinaeva | February 20, 2008

Kami Memimpikan Pulau Bangka

Anak-anak Muntok BerdoaKebaktian Anak di MuntokAnak-anak Berdoa di Muntok

Dengarlah orang Makedonia berseru:”Tolonglah kami dengan Injil,

Agar dosa diampuni hati sejuk, oleh air hayat Tuhan”

(Kidung Rohani no. 273)

Minggu, 1 Juli 2007. Kami sampai di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka dengan perasaan syukur. Akhirnya kami dapat menginjakkan kaki di pulau ini! Betapa kami telah menanti-nantikan kesempatan ini sebelumnya. Perjalanan hanya singkat, satu jam saja dari Jakarta. Udara panas pulau Bangka pun menyambut kedatangan kami.  

Kamipun dijemput menuju pos pelayanan Gereja Yesus Sejati di Bangka. Di sana telah berkumpul anak-anak yang siap mengikuti kebaktian sekolah minggu. Sungguh banyak jumlah mereka! Rupanya kedatangan kami tepat pada waktunya! Kamipun segera diminta untuk membantu memimpin jam ibadah. Setelah kebaktian dan perjamuan kasih selesai, anak-anak itupun segera diantar pulang. Betapa indahnya melihat para pengerja di Bangka menuntun anak-anak ini pulang. Setiap langkah mereka menyiratkan kasih yang besar. Kami segera teringat akan kasih yang ditunjukkan Tuhan Yesus terhadap anak-anak yang datang kepadaNya. Ia tidak mengusir mereka, namun memeluk dan memberkati mereka satu per satu. Setiap anak istimewa di mata Tuhan. “Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu, ia menyambut Aku” (Matius 18: 5) 

Senin, 2 Juli 2007. Acara Bible Camp dimulai. Lima belas orang anak mengikuti acara Bible Camp untuk anak-anak SD-SMP yang diadakan dari tanggal 2-4 Juli 2007. Empat orang dari mereka berasal dari Mentok. Satu orang dari Mentok ini bisu dan tuli dan dua orang dari mereka beragama Islam. Anak-anak ini untuk pertama kalinya mengikuti pemahaman Alkitab. Selain itu mereka juga mendapat pelajaran Sains, Matematika dan Bahasa Inggris.

Melihat anak-anak begitu antusias mengikuti setiap pelajaran membuat kami merasa bersemangat. Mereka tidak pernah terlihat lelah. Bahkan untuk anak yang bisu dan tuli itu pun, ia mau mengikuti semua kegiatan, termasuk menyanyi memuji Tuhan  dan waktu doa. Kami sungguh tidak mengerti bagaimana caranya ia dapat memuji Tuhan tanpa mendengar atau tanpa dapat mengatakan apa-apa. Namun ia tidak terlihat terhalangi oleh kekurangannya itu. Ia tetap dengan bersemangat ikut dalam acara puji-pujian. Kami pun tidak mengerti bagaimana ia dapat memahami Firman ataupun pelajaran yang disampaikan. Namun kasih Tuhan tidak terbatas oleh belenggu apapun. KasihNya dapat menyentuh hati setiap manusia bahkan tanpa kata-kata sekalipun. Kami percaya anak inipun dapat merasakan kasih Tuhan yang begitu besar  pada waktu doa dan iapun menangis tersedu-sedu. 

Kamis, 5 Juli 2007. Pagi yang cerah. Kami berkendara ke Mentok sekaligus mengantar anak-anak Mentok pulang ke rumah mereka. Mentok adalah kota kecil yang ditempuh sekitar 2-3 jam berkendara dari Pangkal Pinang. Jalanan sepi sekali, hanya sesekali kami berpapasan dengan mobil lain. Kiri kanan masih merupakan hutan liar. Udara panas pun menyengat membuat keringat tidak henti-hentinya mengucur deras.

Setelah anak-anak dijemput semua, pukul 15.00 acara kebaktian anak-anak pun dimulai. Karena belum ada tempat yang memadai, sekitar 30an anak berkumpul di teras rumah seorang warga. Mereka hanya duduk berdesakan di lantai, di tengah cuaca panas Mentok. Namun walaupun demikian, mereka tampak sukacita mengikuti kebaktian. Mereka menyanyi memuji Tuhan dengan penuh semangat. Tidak terlihat wajah asal-asalan dalam memuji Tuhan maupun berdoa. Semua anak, dari umur 3 sampai belasan tahun menggerakkan tangannya sambil memuji Tuhan. Seolah-olah ini adalah kesempatan langka bagi mereka dan mereka begitu menghargai kesempatan ini. Terbayang pula gereja tempat biasa kami beribadah, dengan bangku yang memadai dan ruangan yang ber-AC dan nyaman. Rasanya keadaan kami jauh lebih baik, namun semangat dan sukacita kami dalam berkebaktian belum sebanding dengan sukacita anak-anak Mentok ini. Kami merasa malu.

Malam itu, setelah mengadakan persekutuan, kami sempat menginap di rumah seorang jemaat di Plangas (Plangas adalah sebuah kecamatan kecil, kira-kira 40 menit berkendara dari Mentok). Sekali lagi kami melewati jalan yang sama. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Saat mendongakkan kepala, terlihatlah langit Mentok yang sangat indah. Bintang-bintang yang tidak pernah kami lihat di kota besar bertaburan dengan indahnya menghiasi langit Mentok. Betapa luar biasanya Tuhan!!

Kembali ke Pangkal Pinang, Tuhan mengirimkan berkatNya yang lain. Hujan pun turun siang itu dan keesokan siangnya, membuat udara di Pangkal Pinang sejuk dan nyaman. Setelah rasa panas yang menyengat di Mentok, hujan kali ini terasa seperti siraman sejuk di atas tanah yang kering. Terima kasih Tuhan.

Minggu, 8 Juli 2007. Kami kembali ke Jakarta dengan perasaan bersyukur. Bersyukur Tuhan mengaruniakan kesempatan kepada kami untuk pergi ke pulau Bangka. Bersyukur atas keramahan saudara saudari seiman dan tangan-tangan kasih mereka yang selalu menyediakan kebutuhan kami dan menganggap kami seperti anak mereka sendiri. Bersyukur atas rumah di Jakarta yang kami tempati mengingat banyak saudara saudari di sana yang mungkin tidak seberuntung kami. Bersyukur atas anugrah keselamatan yang Tuhan berikan atas kami dan atas saudara-saudari di pulau Bangka.

Kami pun pulang dan memimpikan pulau Bangka. Memimpikan anak-anak di Pangkal Pinang dan Mentok yang lucu dan bersemangat. Anak-anak ini bagaikan domba-domba kecil yang tersesat. Mereka membutuhkan tuntunan dan panggilan para gembala untuk kembali pulang ke kandang, ke dalam pelukan kasih Tuhan kita, Yesus Kristus. Kami memimpikan para pengerja yang tanpa mengenal lelah siang dan malam berdoa, mengajar dan menyebarkan Injil Tuhan di sana. Memimpikan kami kembali lagi ke sana untuk membagikan kabar sukacita Injil. Semoga Tuhan membukakan lagi kesempatan bagi kami  lain kali. Semoga Tuhan memimpin langkah para pengerja di pulau Bangka agar semakin giat melayaniNya dan semoga gereja pun dapat segera berdiri di sana. Amin.

  

Posted by: marlinaeva | February 20, 2008

Somewhere Beyond the Rainbow

Someone said that even unreturned love has its own rainbow. Can somebody tell me where the rainbow is???  I was trying to search for it but still can’t find it . My friend can’t either. She’s crying until there’s no voice coming out from her mouth. She’s trying to hold back her tears and  find the rainbow, but her vision is too blur… I hate him for making her cry. I hate her for letting herself cry.        

Where is the rainbow? Is it near or far? Is it just above our heads or  far away there beyond the horizon? How long does it take to get there? What is it that I can find beyond that rainbow?? Promise fulfilled? Love kept? Home waiting? Why is it so important for me to find it? What about if I can’t find it my whole life? What makes it different from any other rainbow? What is the use of this kind of rainbow?        

This rainbow doesn’t need to appear anywhere in the sky!!! It has to throw itself away to the bottom of the earth. The sun shouldn’t let himself shine on it. The rain shouldn’t pour. The clouds shouldn’t gather together. So I won’t have to waste my time trying to search for it. My friend neither.  Nor anyone else.      

Strange thing is it’s always there. She loves him and he loves the other. So, the clouds keep gathering and the rain keeps pouring. I guess the sun will shine anyway. So, it’s always there.        

But can somebody tell me where it is? I can’t find it anywhere. Not before, not now.     

I don’t even believe it exists. Not until I can find one.                         

           

Categories